Ahok
selalu menarik. Pertama, dia Cina. Kedua, dia berani terjun ke politik.
Dua perkara itu saja sebetulnya sudah langsung menyeret pria kelahiran
Belitung 50 tahun silam ini ke pusat perhatian. Seperti kita tahu,
jangankan berkarier, di sini warga keturunan Cina justru kerap jadi
korban pergolakan politik. Jadi sumbu huru-hara, jadi pelengkap
penderita.
Tak terima perlakuan nasib, Ahok berdiri menantang
sejarah. Bosan hidup? Tidak. Ini justru sikap yang sangat mencintai
hidup. Basuki Tjahaya Purnama, sadar umur manusia pendek, dan dia tak
ingin melewatinya tanpa melakukan sesuatu yang bernilai. Bagi hidupnya,
bagi bangsanya, tanahairnya.
Kalau hanya untuk sekedar hidup,
Ahok sudah berkecukupan. Setelah menimba ilmu di Universitas Trisakti,
suami Veronica Tan ini pernah mendirikan pabrik pengolahan pasir kuarsa
di desa Burung Mandi, Belitung Timur. Ini pabrik pertama yang dibangun
di kawasan yang menjadi cikal bakal tumbuhnya Kawasan Industri Air Kelik
di Belitung Timur.
Nyempal dari orbit, dia berbelok ke politik.
Warga Cina berbisnis, itu sudah jamak. Yang terjun ke politik, baru Ahok
orangnya. Dan tak tanggung-tanggung, anak pertama dari Alm. Indra
Tjahaya Purnama dan Budiarti Ningsing ini, kini jadi orang nomor satu di
DKI-Jakarta, menggantikan Ir. Joko Widodo yang terpilih jadi Presiden
RI.
Begitu resmi dilantik, 14 Desember 2014, Ahok langsung
menunjukkan kelasnya. Sebagai Gubernur dia bukan dari jenis amatiran.
Dia lempang seperti buku teks pendidikan politik dengan huruf-huruf yang
tebal; mengembalikan fungsi politik pada hakikatnya semula. Partai
hanyalah alat, sementara tujuan politik adalah untuk kesejahteraan
rakyat. Bukan sebaliknya.
Banyak kebijakan penerima penghargaan
Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara negara ini yang mengundang
decak kagum. Sayang, tulisan ini akan terlalu panjang dan tidak akan
menarik kalau hanya membuat daftar prestasi, yang nota-bene sudah
diketahui umum. Saya lebih suka berimajinasi tentang apa yang ada di
kepala Ahok.
Salah satu pernyataan Ahok yang melekat di benak
saya adalah: “Saya akan berhenti berambisi jadi pemimpin, jika semua
pejabat berkelakuan baik.” Sebuah ucapan yang terang-benderang
menunjukkan bahwa dia berangkat dengan motivasi yang berbeda. Tidak
seperti kader parpol pada umumnya, yang menjadikan politik sebagai alat
untuk mengejar harta dan kekuasaan, bagi Ahok menjadi pemimpin bukan
tujuan. Dia ingin jadi contoh, jadi teladan, atau jangan-jangan jadi
martir…
Terbukti kemudian dia sama sekali tidak peduli apakah
akan berhasil mencalonkan diri untuk kedua kalinya sebagai kepala daerah
DKI-Jakarta, atau gagal. Ahok nekat maju melalui jalur independen,
sebuah langkah penuh risiko. Arus deparpolisasi yang terjadi sejak
berakhirnya pilres 2015, yang diperparah dengan tingkah polah kader
parpol di DPR-RI, direspon Ahok sebagai bahan pelajaran berharga bagi
anak bangsa, terutama bagi yang berniat maju sebagai pemimpin.
Sikap Ahok, kontan menuai sirik. Konfrontasi tak terhindarkan. Seperti
yang terlihat sekarang, Ahok berhadap-hadapan secara frontal dengan
parpol. Kejumawaan partai dipertaruhkan. Kini semua berbaris melawan
Ahok. Apakah Ahok takut? Gemetar? Tidak. Ahok bergeming.
Kesombongan parpol kini berada di tangannya. Respon dan dukungan rakyat
tak main-main. Kinerja kader parpol di DPR-RI yang selama setahun tak
menghasilkan apa-apa selain kehebohan, dan caci-maki terhadap
pemerintah, telah menggiring rasa muak masyarakat ke batas toleransi.
Relawan bermunculan, salah satunya Teman Ahok yang berani mengumpulkan
satu juta KTP agar Ahok bisa maju sebagai Cagub dari jalur independen.
Di luar dari semua itu, bagi saya kehadiran Ahok sudah berhasil membawa
bangsa ini ke persimpangan, antara; apakah akan menerima keberagaman
sebagai azaz hidup bersama, seperti yang tertera di lambang negara
Garuda Pancasila, atau menghapusnya dari mimpi. Kini, bukan hanya ormas
yang menolak keberagaman, bahkan ada partai politik yang terang-terangan
menolak Pancasila.
Politik selamanya tak pernah diam, selalu
dinamis, dan berubah setiap saat. Ahok bisa saja melangkah mulus atau
terlempar dari panggung politik, namun dia sudah memberi contoh
bagaimana seorang pemimpin harus bersikap.
Jim B Aditya
090316
090316

Post a Comment
Post a Comment