BREAKING

Monday, 14 March 2016

AHOK ITU BUKU PENDIDIKAN POLITIK DENGAN HURUF-HURUF TEBAL


Ahok selalu menarik. Pertama, dia Cina. Kedua, dia berani terjun ke politik. Dua perkara itu saja sebetulnya sudah langsung menyeret pria kelahiran Belitung 50 tahun silam ini ke pusat perhatian. Seperti kita tahu, jangankan berkarier, di sini warga keturunan Cina justru kerap jadi korban pergolakan politik. Jadi sumbu huru-hara, jadi pelengkap penderita.

Tak terima perlakuan nasib, Ahok berdiri menantang sejarah. Bosan hidup? Tidak. Ini justru sikap yang sangat mencintai hidup. Basuki Tjahaya Purnama, sadar umur manusia pendek, dan dia tak ingin melewatinya tanpa melakukan sesuatu yang bernilai. Bagi hidupnya, bagi bangsanya, tanahairnya.

Kalau hanya untuk sekedar hidup, Ahok sudah berkecukupan. Setelah menimba ilmu di Universitas Trisakti, suami Veronica Tan ini pernah mendirikan pabrik pengolahan pasir kuarsa di desa Burung Mandi, Belitung Timur. Ini pabrik pertama yang dibangun di kawasan yang menjadi cikal bakal tumbuhnya Kawasan Industri Air Kelik di Belitung Timur.

Nyempal dari orbit, dia berbelok ke politik. Warga Cina berbisnis, itu sudah jamak. Yang terjun ke politik, baru Ahok orangnya. Dan tak tanggung-tanggung, anak pertama dari Alm. Indra Tjahaya Purnama dan Budiarti Ningsing ini, kini jadi orang nomor satu di DKI-Jakarta, menggantikan Ir. Joko Widodo yang terpilih jadi Presiden RI.

Begitu resmi dilantik, 14 Desember 2014, Ahok langsung menunjukkan kelasnya. Sebagai Gubernur dia bukan dari jenis amatiran. Dia lempang seperti buku teks pendidikan politik dengan huruf-huruf yang tebal; mengembalikan fungsi politik pada hakikatnya semula. Partai hanyalah alat, sementara tujuan politik adalah untuk kesejahteraan rakyat. Bukan sebaliknya.

Banyak kebijakan penerima penghargaan Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara negara ini yang mengundang decak kagum. Sayang, tulisan ini akan terlalu panjang dan tidak akan menarik kalau hanya membuat daftar prestasi, yang nota-bene sudah diketahui umum. Saya lebih suka berimajinasi tentang apa yang ada di kepala Ahok.

Salah satu pernyataan Ahok yang melekat di benak saya adalah: “Saya akan berhenti berambisi jadi pemimpin, jika semua pejabat berkelakuan baik.” Sebuah ucapan yang terang-benderang menunjukkan bahwa dia berangkat dengan motivasi yang berbeda. Tidak seperti kader parpol pada umumnya, yang menjadikan politik sebagai alat untuk mengejar harta dan kekuasaan, bagi Ahok menjadi pemimpin bukan tujuan. Dia ingin jadi contoh, jadi teladan, atau jangan-jangan jadi martir…
Terbukti kemudian dia sama sekali tidak peduli apakah akan berhasil mencalonkan diri untuk kedua kalinya sebagai kepala daerah DKI-Jakarta, atau gagal. Ahok nekat maju melalui jalur independen, sebuah langkah penuh risiko. Arus deparpolisasi yang terjadi sejak berakhirnya pilres 2015, yang diperparah dengan tingkah polah kader parpol di DPR-RI, direspon Ahok sebagai bahan pelajaran berharga bagi anak bangsa, terutama bagi yang berniat maju sebagai pemimpin.

Sikap Ahok, kontan menuai sirik. Konfrontasi tak terhindarkan. Seperti yang terlihat sekarang, Ahok berhadap-hadapan secara frontal dengan parpol. Kejumawaan partai dipertaruhkan. Kini semua berbaris melawan Ahok. Apakah Ahok takut? Gemetar? Tidak. Ahok bergeming.

Kesombongan parpol kini berada di tangannya. Respon dan dukungan rakyat tak main-main. Kinerja kader parpol di DPR-RI yang selama setahun tak menghasilkan apa-apa selain kehebohan, dan caci-maki terhadap pemerintah, telah menggiring rasa muak masyarakat ke batas toleransi. Relawan bermunculan, salah satunya Teman Ahok yang berani mengumpulkan satu juta KTP agar Ahok bisa maju sebagai Cagub dari jalur independen.

Di luar dari semua itu, bagi saya kehadiran Ahok sudah berhasil membawa bangsa ini ke persimpangan, antara; apakah akan menerima keberagaman sebagai azaz hidup bersama, seperti yang tertera di lambang negara Garuda Pancasila, atau menghapusnya dari mimpi. Kini, bukan hanya ormas yang menolak keberagaman, bahkan ada partai politik yang terang-terangan menolak Pancasila.

Politik selamanya tak pernah diam, selalu dinamis, dan berubah setiap saat. Ahok bisa saja melangkah mulus atau terlempar dari panggung politik, namun dia sudah memberi contoh bagaimana seorang pemimpin harus bersikap.

Jim B Aditya
090316

Post a Comment

Post a Comment

 
Copyright © 2016 Tai.web.id
Design by FBTemplates | BTT