"Isu itu dimulai oleh Pembenci, disebar
oleh orang Bodoh, dipercaya oleh Idiot."
( Ziad K. Abdelnour )
oleh orang Bodoh, dipercaya oleh Idiot."
( Ziad K. Abdelnour )
Ziad K. Abdelnour adalah pengusaha asal Libanon yang sukses di Amerika Serikat. Ziad juga anggota Komite Pembebasan Libanon, juga Staf Ahli Timur Tengah bagi pemerintah AS era George W. Bush.
Benar apa yang dikatakan oleh Ziad.. "ISU" dalam bentuk apapun (gosip, isu SARA, dll) adalah konsumsi orang BODOH dan makanan orang IDIOT, kaum yang belum sempurna berevolusi dari primata bila merujuk ke teori Charles Darwin.
Panasnya jalan menuju Pilgub DKI adalah "epitomi" (perlambang) dari situasi semacam ini, saat berbagai tokoh masyarakat yang "berkepentingan" dari kalangan ulama sampai artis berlomba-lomba menebar isu SARA demi menjatuhkan elektabilitas rival yang dianggap lawan berat.
Kampanye tidak sehat yang menyasar segmen masyarakat tertentu yang disebut oleh Ziad K. Abdelnour di atas, yakni orang bodoh dan orang idiot.
Mereka diharapkan membeli mentah-mentah merk "Akidah" & merk "Etnis" yang dijual tanpa mampu mencerna itu tak lebih dari trik politik kotor menghalalkan segala cara demi menang Pilkada.
Sebuah teknik berjudi melempar "bola liar" tanpa tanggung jawab akan kemungkinan imbas negatif & efek jangka panjang pada sosial masyarakat akibat dari isu SARA tersebut. Karena seorang pembenci tak pernah punya cukup rasio untuk berhitung.
Padahal UUD 45 sudah jelas mengatur hak WNI (Warga Negara Indonesia) tidak peduli Suku, Ras, Agama, tanpa kecuali SAMA di depan hukum dan pemerintahan. Sila terakhir Pancasila sudah tegas menyatakan "Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia", TANPA KECUALI.
Isu SARA sebagai KAMPANYE HITAM saat Pilkada adalah bola liar yang belum terbukti efektif menaikkan elektabilitas, tapi beresiko memicu konflik horisontal bukan tidak mungkin berujung kekerasan.
Metoda pilihan para Penjahat yang lebih jahat daripada "Penjahap". Karena "Hap" hanya akan merusak mental satu-dua orang Anak Baru Gede, tapi isu SARA bisa menghancurkan sebuah bangsa.
Dan semua demi apa?
Demi sebuah kursi Gubernur DKI,
Demi peluang untuk bisa korupsi,
Demi politik, uang dan kekuasaan,
Kau hap agamamu, kau hap bangsamu
Demi sebuah kursi Gubernur DKI,
Demi peluang untuk bisa korupsi,
Demi politik, uang dan kekuasaan,
Kau hap agamamu, kau hap bangsamu
Teroris hap lebih kejam dari teroris Belgia.
Ustad Abu Janda al-Boliwudi
( Aktivis anti Penjahat & anti Penjahap )
( Aktivis anti Penjahat & anti Penjahap )
#SayNoToHap
#NoToTerrorism
#PrayForBrussels
#NoToTerrorism
#PrayForBrussels

Post a Comment
Post a Comment