Kita semua tau bahwa di jaman berkembangnya teknologi informasi yang merambah ke dunia Internet saat ini membuat semua masyarakat menjadi mudah mendapatkan informasi terbaru yang sedang panas-panasnya terjadi. Namun masyarakat kita umumnya tidak kritis, karena tidak tahu. Urusan teknologi 4G misalnya, kebanyakan sarjana lulusan S1 pun banyak yang tidak tahu tentangnya. Demikian pula halnya dgn hal-hal lain seperti teknologi mobil listrik, olimpiade sains, dan sebagainya.
Semua diakibatkan karena awak media kita tak punya cukup pengetahuan untuk membedakan antara menciptakan dan merakit. Media bukan penjelas kabar, tetapi penyebar kabar tak jelas. Maka jadilah kita sebagai bangsa konsumen hoax dan berita kabur seperti contoh berita di bawah ini :
Pada tanggal 1 Desember 2015 (pukul 21.23) akun 'Irvan' memposting sebuah gambar seorang anak dan dikasih deskripsi sebagai Anak Palestina yang ditembak oleh Tentara Israel. Apakah kejadian itu nyata? Ya benar, tetapi diperankan oleh aktor dan aktris berpengalaman. Supaya ga jadi salah informasi, untuk kita ketahui bersama bahwa gambar tersebut merupakan cuplikan dari sebuah film berjudul 'Mamlakat al-Naml' atau lebih dikenal 'The Kingdom of Ants'. Diputar sejak tahun 2010 di berbagai negara, seperti Tunisia, mesir, dan Suriah. Namun karena banyaknya peristiwa di berbagai negara, sehingga film ini berhenti perputarannya dan diputar kembali pada tahun 2012 untuk kelas internasional.sumber : indonesian hoaxes
Dari sumber berita di atas, apa sih yang menjadi penyebab mudahnya masyarakat termakan berita ang tidak jelas dan kabur, beberapa diantaranya yaitu :
Berkaitan dengan SARA
Kalau hoax berkaitan dengan sebuah kepercayaan yang kita pegang atau anut, maka kebohongannya bakal lebih diterima. Contohnya hoax SARA. Ya gan, orang Indonesia itu cepet banget kepancing sama hal-hal berbau Suku, Agama dan Ras. Itulah kenapa ketika ada berita yang berkaitan dengan SARA, cepet banget dishare. Kalau menurut ane, orang Indonesia itu belum sepenuhnya siap menerima perbedaan. Ya maklumlah gan, selama 32 tahun kita dipaksa seragam sama Orba dengan informasi yang serba dibatasin. Ketidaksiapan itu membuat kita mudah sekali digosok sama hal-hal berbau SARA.
Kalau hoax berkaitan dengan sebuah kepercayaan yang kita pegang atau anut, maka kebohongannya bakal lebih diterima. Contohnya hoax SARA. Ya gan, orang Indonesia itu cepet banget kepancing sama hal-hal berbau Suku, Agama dan Ras. Itulah kenapa ketika ada berita yang berkaitan dengan SARA, cepet banget dishare. Kalau menurut ane, orang Indonesia itu belum sepenuhnya siap menerima perbedaan. Ya maklumlah gan, selama 32 tahun kita dipaksa seragam sama Orba dengan informasi yang serba dibatasin. Ketidaksiapan itu membuat kita mudah sekali digosok sama hal-hal berbau SARA.
Gak kritis dan males kroscek
Nah, ini masalah pola pikir gan. Jujur aja yah, orang Indonesia emang gak dilatih berpikir kritis. Sejak sekolah, kurikulum pendidikan kita berfokus sama menghapal bukan menganalisa. Jadinya, sejak kecil kita terbiasa untuk menerima mentah-mentah apa yang disodorin ke kita. Bahkan, kalo kita sering mempertanyakan hal itu, kita malah dianggap membangkang. Padahal sikap kritis itu perlu gan di jaman banjir informasi seperti sekarang ini. Internet tuh ibarat gudang segala macam info. Kalo kita gak pinter nyaring, kita bisa jadi kayak kerbau dicucuk hidungnya. Karena gak mau kritis inilah, kita akhirnya menelan mentah-mentah informasi yang beredar di internet terutama media sosial. Hoax atau fakta, kita gak mau peduli. Oh, cmon gan, kita kan bukan mesin atau robot yang hidup berdasarkan perintah kan gan.
Nah, ini masalah pola pikir gan. Jujur aja yah, orang Indonesia emang gak dilatih berpikir kritis. Sejak sekolah, kurikulum pendidikan kita berfokus sama menghapal bukan menganalisa. Jadinya, sejak kecil kita terbiasa untuk menerima mentah-mentah apa yang disodorin ke kita. Bahkan, kalo kita sering mempertanyakan hal itu, kita malah dianggap membangkang. Padahal sikap kritis itu perlu gan di jaman banjir informasi seperti sekarang ini. Internet tuh ibarat gudang segala macam info. Kalo kita gak pinter nyaring, kita bisa jadi kayak kerbau dicucuk hidungnya. Karena gak mau kritis inilah, kita akhirnya menelan mentah-mentah informasi yang beredar di internet terutama media sosial. Hoax atau fakta, kita gak mau peduli. Oh, cmon gan, kita kan bukan mesin atau robot yang hidup berdasarkan perintah kan gan.
Percaya media abal-abal sih!
Gan, sadar gak sih kalo berita hoax itu biasanya berawal dari postingan di media sosial atau blog-blog yang gak jelas pemiliknya. Logikanya gini, mereka share itu lewat akun-akun medsos dan blog karena informasi seperti itu gak bakal mungkin dimuat di media yang jelas kredibilitasnya. Kenapa? Karena media kredibel pasti akan selalu melakukan cek dan ricek informasi. Sementara, akun dan blog kan gak perlu atau gak mau susah-susah melakukan itu. Padahal, penyebar informasi pertama kali juga gak jelas siapa.
Gan, sadar gak sih kalo berita hoax itu biasanya berawal dari postingan di media sosial atau blog-blog yang gak jelas pemiliknya. Logikanya gini, mereka share itu lewat akun-akun medsos dan blog karena informasi seperti itu gak bakal mungkin dimuat di media yang jelas kredibilitasnya. Kenapa? Karena media kredibel pasti akan selalu melakukan cek dan ricek informasi. Sementara, akun dan blog kan gak perlu atau gak mau susah-susah melakukan itu. Padahal, penyebar informasi pertama kali juga gak jelas siapa.
Jadi netizen, harusnya kan kudu pinter yah gan. Gampangnya gini, media yang kredibel itu selalu mencantumkan informasi tim redaksi dan memuat panduan media siber di situs mereka. Karena itu adalah satu syarat media online yang punya tujuan, visi dan misi yang benar. Ya kalo tujuannya menyebarkan fitnah, gak perlu repot-repot memuat dua hal itu kan?
Hari gini masih percaya media abal-abal?
Hari gini masih percaya media abal-abal?
Informasi itu sangat populer dan viral
Begitu informasi hoax itu jadi viral, akhirnya dipercaya orang jadi sebuah kebenaran. Bila berita atau informasi bohong itu terus menerus disodorkan pada masyarakat, akhirnya kita percaya bahwa itu adalah fakta sesungguhnya. Kita jadi tutup mata pada kebenaran yang ada. Ada temen yang nge-share, kita ikut-ikutan share. Padahal blom baca isi artikelnya. Alesannya, “ah toh dia juga nge-share berita itu, berarti bener dong.” Masalahnya, si penyebar hoax di media sosial bisa saja berkilah, apa yang dilakukannya merupakan salah satu bentuk dari kebebasan berpendapat. Bebas yang seperti apa?
Begitu informasi hoax itu jadi viral, akhirnya dipercaya orang jadi sebuah kebenaran. Bila berita atau informasi bohong itu terus menerus disodorkan pada masyarakat, akhirnya kita percaya bahwa itu adalah fakta sesungguhnya. Kita jadi tutup mata pada kebenaran yang ada. Ada temen yang nge-share, kita ikut-ikutan share. Padahal blom baca isi artikelnya. Alesannya, “ah toh dia juga nge-share berita itu, berarti bener dong.” Masalahnya, si penyebar hoax di media sosial bisa saja berkilah, apa yang dilakukannya merupakan salah satu bentuk dari kebebasan berpendapat. Bebas yang seperti apa?
Dari beberapa penyebab di atas, bagaimana sih kita mengatasi hal tersebut?
Cara yang paling mudah mengenali ciri-ciri berita hoax adalah dengan membaca secara cermat dan menyeluruh pada setiap bangunan kata dan kalimat yang disusun. Kemudian menandai kejanggalan – kejanggalan dengan pedoman berikut ini:
Cara yang paling mudah mengenali ciri-ciri berita hoax adalah dengan membaca secara cermat dan menyeluruh pada setiap bangunan kata dan kalimat yang disusun. Kemudian menandai kejanggalan – kejanggalan dengan pedoman berikut ini:
- Berita pertama kali didistribusikan melalui email, mailing list, forum, blog, facebook, yang kemudian disebarluaskan via twitter.
- Isinya bertentangan dengan logika umum dan ilmu pengetahuan atau terdapat kontradiksi dengan fakta yang sudah umum diketahui.
- Menggunakan istilah yang terkesan ilmiah, yang memanfaatkan ketidaktahuan/keawaman pembaca.
- Bangunan kalimat yang mendorong pembaca untuk menyebarluaskan pesan tersebut.
- Sumber berita tidak jelas identitasnya.
- Tidak ada link sumber untuk informasi yang dianggap penting. Penulis yang baik pasti mencantumkan sumber ilmiah dalam tulisannya. Jika tidak dicantumkan sumber maka waspadalah terhadap keilmiahan artikel tersebut.
Sekian informasi dari redaksi tai, semoga bermanfaat bagi kita semua dan sebelum menyebarkan informasi, biasakan croscheck terlebih dahulu dan membandingkan berita yang ada dengan mesin pencari yang sangat tangguh saat ini.
Saya menempatkan diri sebagai penyedia informasi terang, sebatas kemampuan yg saya miliki. Kadang posisi itu saya ambil dengan resiko dimaki-maki sebagian orang yg dengki kepada saya Terima kasih.


Post a Comment
Post a Comment